Selasa, 07 Desember 2010

GLAUKOMA


GLAUKOMA PRIMER SUDUT TERTUTUP
Gejala klinis:
-          nyeri mata hebat mendadak
-          mata sangat kabur, melihat halo
-          mata merah hiperemi konjungtiva dan siliar
-          visus sangat menurun
-          edema kornea
-          COA sangat dangkal
-          Pupil lebar lonjong, refleks cahaya (-)
-          TIO sangat tinggi (tonometri)
-          Sudut bilik mata depan tertutup (gonioskopi)

Trias Glaukoma Akut
-          hiperemis unilateral
-          pupil midriasis non reaktif
-          palpasi bola mata keras seperti batu

4 stadium glaukoma

Prodormal
Akut
Absolut
Degeneratif
Keluhan
Nyeri mata(+/-)
Penglihatan kabur
Melihat halo
Mata cekot-cekot, mata merah, mual muntah
Penglihatan (-)
Mata sangat sakit
Pemeriksaan fisik
Palpebra edema, konjungtiva mixed injeksi, edema kornea, BMD dangkal, pupil midriasis
Visus menurun, TIO meningkat
Visus 0, mata keras seperti batu, pupil midriasis, iris atrofi
Kornea bula keratopati, lensa katarak, atrofi bulbi
Terapi
iridektomi
Medikamentosa, bedah
Enukleasi bulbi



Komplikasi glaukoma akut kongestif:
-          sinekia anterior perifer
-          katarak komplikata
-          atrofi papil
-          ekskavasi
-          glaucoma absolute

GLAUKOMA SUDUT TERBUKA PRIMER

- Kelainan tdk khas
- Sifat kronis
- Biasanya pd org tua > 40 tahun
- 2 bentuk :      - Juvenile open angle galukoma
                        - POAG
- Penderita pria > wanita

Gejala
© Mata tenang, tdk merah, tdk cekot-cekot
© Biasanya mengenai ke-2 mata (derajat beratnya tdk sama)
© Visus ↓ perlahan-lahan à  buta menetap ( “maling penglihatan”)
(Visus ↓ bila sdh terjadi ekskavasio glaukomatosa)
à Visus = 0, oleh karena atrofi PN.II
- lapang pandang menyempit  àkhas spesifik.


GLAUKOMA SEKUNDER
disebabkan oleh kelainan penyakit di dlm mata tsb
  1. pada kornea : lekoma adherens
  2. pada COA : hifema, hipopion
  3. pada Iris/pupil : Sinekia posterior, tumor iris, seklusio & oklusio pupil
  4. pada Lensa : katarak imatur /hipermatur / matur (kapsul menipis ¦ mata lensa keluar ¦ glaukoma) subluksasi lentis, luksasi lentis (ke posterior ¦merangsang korpus siliaris produksi HA)
  5. pada segmen posterior : Tumor,  intraokuler, glaukoma neovaskuler,perdarahan CV masif, trombosit V.sentralis.
  6. Pemakaian kortikosteroid jangka panjang ¦
            mis : pd asma bronkiale, rheumatik, konjungtivitis venalis

Terapi :
-      Sesuai kausa

Prognosis glaucoma sekunder lebih baik dibandingkan glaucoma primer

GLAUKOMA KONGENITAL

Glaukoma berkaitan dgn anomaly kongenital a.l:
            a. Glaukoma berpigmen
            b. Aniridia
            c. Sindroma Axenfield
            d. Sindroma Sturge-Weber
            e. Sindroma Marfan
            f. Neurofibomatosis
            g. Sindroma Lowe

Gejala
  Aloanamnesis  : mata berair, fotofobi
  Tanda dini       : megalokornea/makrokornea
                                    { Ø Vertikal
                                    { Ø > 11,5 mm ð curiga glaukoma
                                    { Ø > 12,0 mm ð diagnosa pasti glaukoma
                                    { Ruptur membrance descement.

Tanda lanjut :
©  Edema kornea dgn segala akibatnya
©  Sklera perikornea menipis, warna kebiruan
©  PN. II : ekskavasio glaukomatosa
©  Buftalmus, hidroftalmus.

Terapi
Operatif
*Dini   ( kornea masih jernih)à Goniotomi, YAG laser goniotomi
*Lanjut            : Trabekulektomi

TERAPI UMUM GLAUKOMA
  1. Bila TIO sangat tinggi: berikan obat hiperosmotik. Prinsip kerja adalah menarik cairan dari corpus vitreum sehingga corpus vitreum mengkerut sehingga iris dan struktur lain di depannya dapat tertarik ke belakang
    1. Mannitol 20% iv habis dalam 6 jam, diberikan maksimal 3 hari.
    2. Gliserin oral bisa ditambahkan dalam air jeruk
  2. bila TIO berkisar 30 mmHg berikan penghambat karbonik anhidrase. Preparatnya adalah acetazolamid dengan dosis 250 mg, diberikan 3-4 x sehari. Cara kerjanya adalah dengan menekan produksi aquous humor. Efek sampingnya adalah hipokalemia yang berakibat tetani, mengantuk, parastesia, batu ginjal, depresi pada orangtua. Sehingga diberikan suplemen aspar K untuk menghindari hipokalemi
  3. alternative yang lain adalah pemberian beta bloker. Prinsip kerjanya adalah menekan produksi aquous humor. Preparat yang paling sering dipakai adalah Timolol Maleat 0,5% tetes mata 2x/hari. Preparat yang lain adalah Metipranolol, Levobunolol HCl, Betaksolol HCl.
  4. Selain itu dapat diberikan miotik. Prinsip kerjanya adalah dengan membuka saluran drainase inefisien pada trabekular. Preparatnya adalah pilokarpin 1-2% 4 x per hari. Preparat lainnya adalah karbakol.
  5. apabila terapi medikamentosa dinilai gagal, yaitu: obat tidak bereaksi, Lapang pandang semakin menyempit, TIO tidak turun, atau bisa juga indikasi social seperti rumah yang jau à maka dilakukan tindakan bedah:
    1. bedah filtrasi: trabekulektomi, trepanasi elliot, sklerotomi
    2. trabekuloplasti


PEMERIKSAAN KHUSUS UNTUK GLAUKOMA
  1. visus
  2. tonometri
  3. gonioskopi untuk melihat sudut bilik mata depan (BMD)
  4. Oftalmoskopi untuk melihat warna papil dan lebar ekskavasi à untuk mengetahui CDR (Cup Disc Ratio)
Normal à 0,3,
Glaukoma à >0,5 = ekskavasio glaukomatosa
Glaukoma parah à 0,9
  1. Pemeriksaan lapang pandang dengan uji konfrontasi, perimetri goldmann
  2. pemeriksaan slitlamp: evaluasi oftalmik
  3. Tonografi
  4. Tes provokasi
    1. sudut terbuka
-          tes minum air: penderita puasa 1 hari. Minum air 1 liter dalam 5 menit. Ukur TIO tiap 15 menit selama 1,5 jam. Kenaikan tensi 8 mmHg lebih dianggap glaukoma
-          pressure congestion test: tensimeter dipasang pada 50-60 mmHg selama 1 menit. TIO diukur. Kenaikan 9 mmHg mencurigakan. 11 mmHg patologis
-          kombinasi a dan b
-          tes steroid. Diteteskan larutan dexamethason selama 2 minggu
    1. sudut tertutup: tes kamar gelam selam 1 jam, tes membaca, tes midriasis, tes bersujud


TONOMETER
à Pemeriksaan TIO dengan alat, sebaiknya dilakukan pada setiap usia>20 tahun
Cara pengukuran:
  1. tonometer digital
  2. tonometer schiotz
  3. tonometer aplanasi
  4. tonometer Mackay Marg

Tonometer  Schiotz merupakan  tonometer indentasi yang dipakai sampai saat
ini. Terdiri dari 3 bagian yaitu: foot plate,plunger,handle dan beban pemberat
5,5 ; 7,5 ;10 ;15 gr
Tekanan bola mata diukur dengan meletakkan tonometer pada kornea dan
mengukur dalamnya indentasi kornea oleh plunger yang diberi beban tertentu. Skala
yang terdapat pada tonometer dikalibrasi dimana 1 unit skala menunjukkan 0,05
mm penonjolan plunger indentasi.

Teknik untuk melakukan pemeriksaan:
- Pasien ditidurkan posisi horizontal
- mata ditetesi Pantocain 0,5%
- pasien diminta memfiksasi matanya (pandangi tangan kirinya yang diangkat ke atas)
- letakkan tonometer Schiotz dengan beban pemberat 5,5 gram terlebih dahulu
- Apabila nilainya kurang dari 5 ganti pemberat dengan atau 7,5 gram, 10 gram atau15 gram.
- masukkan hasil ke dalam nomogram Friedenwald

Kelemahan Tonometer  Schiotz: melibatkan faktor kekakuan sclera

Trabekulektomi: tindakan membuat saluran drainase aquous humor
Trabekuloplasti:
Siklodestruktif: bedah untuk mengurangi produksi aquos humor dengan merusak sebagian korpus siliaris dalam pengobatan glaukoma yang sulit diatasi, menggunakan krioterapi (siklokrioterapi), laser (siklofotokoagulasi), USG, atau diatermi

0 komentar:

newer post older post Home